Archive for the ‘Kisah Para Alien (INFJ)’ Category

Kisahku : INFJ.

Posted: November 17, 2013 in HOME, Kisah Para Alien (INFJ)

by : Moody

Saya tipe orang yang pendiam, suka menyendiri, dan pemalu. Saya orangnya kreatif, tapi terkadang susah untuk menunjukkannya. Pengalaman saya semasa kecil sering di bully dan hal ini saya pendam sendiri. Saya merasa berbeda dengan anak anak lain semenjak kecil, saya suka ngomong dengan diri sendiri dan juga suka memperhatikan orang orang dan menebak perasaan ataupun karakter orang tersebut. Saya ingat, kalau sakit demam, saya selalu bermimpi hal yang sama dan menakutkan.

Hal hal yang saya tebak selalu benar, tetapi jika saya sampaikan kepada orang tersebut, katanya salah, entah ada penyangkalan dari mereka atau apapun itu, yang pasti hati dan pikiran saya tidak mau berhenti berfikir sampai terkadang susah tidur. Dari kecil saya suka sekali pelajaran mengarang karena memang hobi saya berimajinasi. Imajinasi itu antara lain menemukan sebuah ruangan di bawah tanah yang didalamnya seperti sebuah rumah lengkap dengan perabotannya, dan suka membayangkan rumah impian dengan desain sendiri. Semakin kesini bayangan rumah itu semakin nyata detail bentuk dan gambarannya (mudah mudahan terwujud ) Beranjak dewasa saya tetap dengan karakter sama dan sering mengalami “kegalauan”. Kadang apa yang saya bicarakan selalu sulit dimengerti oleh orang orang disekitar saya. Karena itu, saya jadi malas berbicara banyak dengan orang orang kecuali orang itu membuat saya nyaman bercerita dan cocok dengan karakter saya.

Pernah ada momen aneh, ketika itu menjelang wisuda, setiap saya berdoa atau membaca ayat suci, saya sering menangis tanpa tau sebabnya, bahkan sampai dada terasa sesak. Lalu setiap saya tidur dengan posisi lampu mati, saya selalu mimpi seram dan mimpi itu sama. Pernah juga saya melihat badan sendiri, seperti keluar dari tubuh sendiri, antara sadar dan tidak. Kejadian yang semakin aneh itu, membuat orang tua saya memaksa saya untuk berobat ke “orang pintar”. Saya sangat kebingungan waktu itu, karena saya sendiri tidak merasa sakit atau stres, karena saran atau pengobatan itu selalu kontra dengan diri pribadi.

Kejadian aneh lainnya saya pernah melihat sebuah cahaya putih di rumah, disaksikan dengan saudara saya yang juga melihat cahaya putih itu di punggung saya. Sampai sekarang saya tidak mengerti apa itu, dan saya merasa asing, merasa sendirian kalau sedang berada ditengah banyak orang. Saya merasa tidak memiliki indra keenam, saya juga tidak stres, tapi tidak ada yang mempercayai saya.

Saya keras kepala dan lumayan idealis tapi kenyataanya susah untuk menentang dan butuh kekuatan yang sangat besar untuk mengeluarkannya, seperti perasaan tidak tega atau tidak enak hati. Terkadang saya suka mengalah bahkan seringnya begitu, ada perasaan ga enak, takut menyakiti bahkan ketika saya berada di posisi yang bernarpun saya tidak mengatakan yang sebenarnya, jadi biar tergangtung asumsi mereka saja, toh nanti akan terlihat sendiri siapa yang benar dan yang salah, meskipun hati saya ingin sekali berteriak apa yang sebenarnya. Orang disekitar saya harus tau zona nyaman saya adalah kamar saya sendiri. Disana saya sering bermimpi seru, sampai saya terbangun dan lgsg saya jurnal di kertas atau media lain, dan impian saya, mimpi mimpi itu kelak bisa dijadikan film.

Disisi lain, saya juga suka merasa bisa menggambarkan ekspresi seseorang dari tulisan atau dari gesture nya. Dan setelah mengetahui kalau saya ini INFJ, sekarang saya bisa lebih bisa menerima kalau saya memang berbeda, tetapi masih saja masih belajar mengontrol emosi, jika teman teman dekat saya bilang kalau saya ini aneh. Yah memang kebanyakan begitu, mereka sulit menebak pribadi saya. Hal ini memang menjadi kendala saya dalam bersosialisasi karena takut disalah pahami orang. Meskipun saya ingin banyak teman, pada kenyataanya saya sering fokus pada satu orang saja di setiap perannya, jadi memang benar satu orang saja sudah cukup bagi saya seorang INFJ. Setelah tau soal INFJ, apapun itu, tidak usah terlalu dipusingkan, walaupun berat menjalani hidup sebagai INFJ, tetapi sekarang saya lebih tenang dalam menjalaninya.

Marissa

It might be terribly self-centered to devote an entire post to my Myers-Briggs personality type, but I’m going to do it anyway (think of it as a birthday present to myself). As the rarest personality type, we INFJs often feel misunderstood and alone. Most estimates say that less than 1-2% of the population have this type. That’s one reason discovering our label is so important to us (as I’ve written about before). It lets us know that we are not abnormal, flawed humans. We’re perfectly normal INFJs. This isn’t going to be the first list of it’s type. There’s a Top 10 Things Every INFJ Wants You To Know list and one titled How to love your INFJ? This last one is written mostly for romantic relationships, but it’s funny and true so I linked to it anyway. Though these two lists, and others like them, are excellent…

View original post 528 more words

I am an INFJ

Posted: November 13, 2013 in HOME, Kisah Para Alien (INFJ)

Tan Meng Chuan - Never, Never, Never Quit

I had recently taken the Myers-Briggs Type Indicator and the results were pleasantly surprising. The first time I took it was 15 years ago at the tender age of 14. Then I was one of the more common types, INFP. Now, it seems that I can claim to be one of the rarest types, INFJ.

I’m amazing how much I have changed and not changed. So I decided to do a little bit more research about my new found type and found this elaborate and descriptive exposition (below) by a Dr A.J. Drenth, to whom I now owe a deep gratitude towards.

If you are an INFJ, feel free to drop me a message and connect (we are a rare breed after all). I suspect I’m only touching the tip of my own personality ice berg. And with this deeper understanding of myself I can continue to work on a…

View original post 5,404 more words

Our unique traits

Posted: November 13, 2013 in HOME, Kisah Para Alien (INFJ)

Ya, Saya INFJ

Posted: November 10, 2013 in HOME, Kisah Para Alien (INFJ)

Komposisi Kehidupan Kennissa

It took soooo many depressed years for me to finally realize that I’m an INFJ. Setelah ngisi MBTI tes dan hasilnya INFJ, barulah terjawab kenapa selama ini saya seperti “terpisah” dari dunia. Campuran antara introvert, HSP, empath, dan melancholy compulsive. Karena penjelasan tentang “introvert” aja belom cukup. Itu ga menjelaskan kenapa saya suka menganalisa suatu kasus dari berbagai sudut pandang. Penjelasan tentang HSP pun ga cukup, itu ga menjelaskan kenapa saya suka mengkritik diri sendiri dengan keras dan selalu menemukan sesuatu yang salah sama diri saya. Penjelasan tentang empath pun ga menjawab kenapa saya suka pake bahasa yang berbelit-belit dan membiarkan orang menebak maksudnya. Well. INFJ explanation answers all.

View original post 2,411 more words

                                                           10 Besar hal-hal setiap INFJ ingin anda tahu

Apakah kamu INFJ? apakah kamu sering merasa kesepian dan disalahpahami?

INFJ adalah tipe kepribadian Myers-Briggs yang paling langka kurang dari 2% dari populasi. Karena itu, kita sering merasa seolah-olah banyak yang tidak memahami kita.

Meskipun ada banyak tentang kami yang kami ingin anda tahu, di sini adalah daftar 10 Besar Setiap INFJ yang kami Ingin anda tahu. (Untuk gambaran tipe kepribadian ini, silahkan baca profil INFJ.)

10. Kami adalah perencana

Seperti kebanyakan tipe Judging lainnya, INFJ menyukai struktur dan keteraturan. Walaupun intuisi kadang membuat struktur kami berfluktuasi, kami berusaha memberikan yang terbaik ketika dapat merencanakan rincian situasi dan kehidupan kami. Bagaimanapun juga, spontanitas tidak dapat kami hindari dan terjadi begitu saja diluar kehendak kami. Hal ini sangat mengganggu kami dan sering kali kami merespon keadaan yang tidak terkontrol ini dengan kemarahan dan frustrasi.

Brandie, dalam tulisannya “Little Left Of Normal” merangkumnya dengan baik dalam kalimat berikut, ” Terkadang spontanitas menempatkan kami kepada posisi dimana kami tidak dapat merencanakan…, dan kami merasa kecewa dengan keadaan seperti itu. Mohon dimengerti bahwa kami bukan merasa kecewa terhadap anda, hanya terhadap situasi yang kami hadapi”.

9. Kami sangatlah cerdas

INFJ adalah Pemikir Introvert ( Introvert Thinker) dan Perasa Extrovert (extroverted feelers). Dari kedua fungsi ini, kami kerap bergumul dalam mengartikulasi pemikiran kami. Seperti kita mungkin, dalam pikiran kami, kami dapat menjawab pertanyaan2 yang mempunyai arti yang mendalam, menyimpan informasi yang tak terhitung jumlahnya dan berdebat dengan yang terbaik darinya, tetapi ketika kami diminta untuk mengucapkannya, sering kali kami meraba-raba, terlihat gagap dalam berkata-kata dan hanya mengucapkan sebagian kecil dari apa yang benar benar kami pikirkan. Hal seperti ini menjadikan kami dipandang lamban dalam berpikir dan tidak cerdas.

Tetapi, ketika kami merasa nyaman dengan orang atau dengan situasi dan diberi banyak waktu untuk merenungkan pertanyaan dan mengorganisir pemikiran kami kedalam kata kata, kami mampu berbicara dengan fasih, jelas, dan bergairah pada hampir semua bahasan.

8. Kami hanya membutuhkan satu orang saja

Karena kami seorang introvert, INFJs benar benar merasa lengkap hanya dengan bersama satu orang saja, baik itu pasangan, teman, atau anggota keluarga. Ketika kami menjalin pertemanan, biasanya hubungan tersebut berlangsung untuk jangka waktu lama dan membutuhkan banyak alasan untuk menghancurkannya. TIdak seperti ekstrovert atau introvert lainnya, INFJs dapat menghabiskan sisa waktu hidupnya hanya bersama seseorang yang benar benar dekat dengannya dan tidak pernah merasa seolah olah kehilangan hubungan yang lain. Faktanya, kami lebih memilih untuk seperti itu.

Ketika kami memiliki banyak jalinan hubungan dalam kehidupan, kami menjadi mudah “kewalahan” dan merasa tidak memberikan yang terbaik bagi setiap hubungan tersebut, hal ini menyebabkan kami merasa sedih, kelelahan, dan perasaan tidak tertahankan.

7. Kesendirian yang terlalu lama membuat kami menderita.

Sementara beberapa introvert yang lain dapat berada dalam kesendirian untuk setiap detik dalam kesehariannya dan merasakan kepuasan, INFJ membutuhkan waktu untuk berada ditengah tengah orang-orang. Walaupun kami juga membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi kembali energi kami, terlalu lama menghabiskan waktu sendirian menjadikan kami merasa lelah, kesepian dan depresi. INFJs berkembang melalui emosi emosi orang lain yang dirasakannya. Kami hidup untuk menjadikan orang lain merasa lebih baik agar kami pun merasa menjadi lebih baik. Kami tidak dapat melakukannya bila kami hanya sendirian. Ketika INFJ tidak memiliki hubungan dekat, mereka menjadi depresi dan merasa hampa.

“INFJs sering merasa paling bahagia dan lengkap ketika dapat membantu orang lain memahami dirinya dan semua permasalahan yang dihadapi.” – Personality Junkie, INFJ

6. Kami adalah perfeksionis

INFJs tidak pernah merasa bahagia dengan dirinya sendiri. Bagaimanapun INFJ telah berkembang, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik. Sering kali, kami tetap berjuang sekalipun berhasil dalam pencapaian, karena kami terus menerus fokus pada apa yang kurang dan bagaimana kami seharusnya bisa menjalankan dengan lebih baik lagi. Hal ini bisa membuat INFJ frustrasi ketika melihat orang lain merasa sudah puas dengan diri mereka sendiri.

“INFJ adalah perfeksionis yang meragukan bahwa mereka hidup sampai pada potensi penuh mereka. INFJs sangat jarang merasa benar benar damai dengan diri sendiri- selalu ada sesuatu yang dapat mereka kembangkan serta kehidupan disekitar mereka. Mereka percaya dengan pertumbuhan yang konstan, dan kurang meluangkan waktu untuk menikmati apa yang mereka capai…mereka mempunyai harapan yang sangat tinggi untuk diri sendiri, dan sering kali terhadap keluarga mereka.” – Portrait of an INFJ,www.personalitypage.com

5. Kami tidak menyukai obrolan ringan

Sementara banyak INFJs mempresentasikan sesuatu dengan baik, banyak dari kami berjuang dengan norma norma dan rutinitas, terutama ketika kami merasa hal tersebut kurang berarti. Seperti yang dibahas sebelumnya, kami merasa sulit untuk mengucapkan apa yang kami pikirkan, kami merasa tidak nyaman dalam situasi yang mengharuskan kami untuk melakukan hal spontan dan sikap yang dangkal, seperti bertemu dengan seseorang yang baru.

INFJs menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berpikir hal-hal mendalam dan kompleks, oleh karena itu percakapan yang dangkal dapat membingungkan dan membuat kami frustrasi. Membicarakan mengenai cuaca dan pertandingan olah raga lokal sangat melelahkan bagi kami. Kami memilih percakapan mengenai cerita kehidupan, problema realita yang memberikan kami kesempatan untuk mengajukan solusi atau percakapan yang bisa menjadi sesi terapi. Ketika kami bertanya “bagaimana kabarmu”, kami benar benar mengartikannya dalam dan setulus mungkin.

4. Label pada kami sangat berarti bagi kami

Ketika semua orang dapat dikategorikan secara spesifik dari tipe-tipe MBTI, INFJs cenderung langsung melekat pada label yang diberikan kepada kami segera setelah kami mengetahuinya. Sebagai tipe kepribadian yang terbilang langka, maksimal 2% dari jumlah penduduk dunia, kami merasa tersesat dan banyak disalah pahami. Suatu ketika kami memahami bahwa kami tidak sendirian dan menemukan penjelasan mengapa kami selalu merasa berbeda, kami merasa teramat bahagia dan merasa menjadi “normal”.

Sekalipun penjelasan mengenai INFJ tidak selalu sepenuhnya cocok 100% dengan kepribadian kami, hal tersebut tetap memberikan banyak masukan sebagaimana kami telah menghabiskan banyak waktu mendapatkan informasi tersebut dalam pencarian hidup kami. Empat huruf itu bisa berarti sebuah arah perubahan hidup bagi INFJ.

3. Kami mempunyai pemikiran yang terbuka

INFJs memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berpikir secara abstrak. Dalam pemikiran kami, sangat mudah melihat area abu-abu dan batasan-batasan kabur. Sementara kami cenderung mempunyai prinsip dan gairah yang kuat, kami pun biasanya dapat melihat sudut pandang orang lain dalam berbagai situasi. Ketika terdapat opini yang berbeda, kami termotivasi untuk bertanya dan mencari informasi mengenai dua sudut pandang yang saling berlawanan agar bisa memahami perbedaan perspektif dari hal tersebut. Bagian dari kepribadian ini membawa pada sifat belas kasih yang dalam dan selalu berusaha memberi orang lain manfaat/ pengertian positif akan masalah keraguan yang dihadapi.

2. Kami adalah pribadi yang hangat.

INFJs boleh jadi terlihat “dingin” diluar. Karena kami cenderung tertutup dan hanya menikmati untuk menjadi terbuka kepada orang-orang terdekat saja, orang lain mungkin melihat kami “dingin” dan cenderung menyendiri dan terpisah. Hal ini jauh dari kenyataan yang sebenarnya. INFJs, faktanya memiliki hati yang hangat dan terbuka pada semua orang disekitar kami, tetapi karena secara sosial kami tampak “janggal”, kami berjuang dengan keras untuk membuat orang lain dapat meyadarinya. Rasa belas kasih kami tidak mengenal batas dan kami adalah orang orang tanpa pamrih. Kami berharap semua dapat berpikiran terbuka kepada kami dan mengetahui bahwa kami ada untuk mereka, walau bagaimana, kami juga mungkin saja tidak dapat terlalu terbuka pada mereka karena sifat kami sendiri, bukan karena kesalahan mereka.

1. Intuisi kami nyata

INFJs dikenal sebagai tipe pribadi yang paling intuitif. Kami tahu “begitu saja” mengenai banyak informasi tanpa bisa kami jelaskan sepenuhnya mengapa. Banyak tipe pengindra (Sensing) dan sedikit tipe intuitif lainnya, tidak bisa sepenuhnya memahami tingkat kedalaman intuisi kami dan tidak mempercayai pengetahuan yang kami miliki. Tanpa bisa dijelaskan mengapa, kami bisa merasakan perasaan orang lain disekitar kami sama dalamnya seperti seolah kami sendiri mengalaminya.

Seperti Anonymour INFJ mengatakan: ” Menurut pengalaman saya, bagian yang paling disalah pahami dari seorang INFJ adalah bagaimana kami ikut merasa semua yang dirasakan disekitar kami. Kami tidak bersimpati. Kami tidak berempati. Kami hanya benar-benar merasakan apa yang sedang anda rasakan. Sekalipun anda berusaha menyembunyikan dan tidak mengekspresikannya, kami tetap mengetahui perasaan anda sebenarnya.”

Sejalan dengan pemikiran terbuka dan rasa belas kasih, kemampuan intuisi kami dalam merasakan dan mengerti keadaan sekitar, menjadi alasan terbesar mengapa kami dengan mudah dapat membantu orang lain. Kami mengetahui apa yang terbaik bagi semua disekitar kami sekalipun kami tidak bisa mengatakan dengan jelas mengapa.

Kalau anda mengenal seorang INFJ atau ingin lebih dekat dengan INFJ, mempercayai intuisi kami adalah hal terbaik yang bisa anda lakukan, karena intuisi adalah bagian terbesar dari identitas kami.

Diterjemahkan planetinfj dari :
http://www.jennifersoldner.com/2013/06/top-10-things-every-infj-wants-you-to.html

                     Am I from the Planet INFJ? Are there any more INFJites out there!?

I always have felt different from most people, sometimes even questioning whether I am from this planet or not because it seemed to me that throughout most of my life I have never seemed to “get it” or “fit in” anywhere.  It was in a Human Potential class that I took 21 years ago that I learned that there was a name that accurately describes me-INFJ:  Introverted-Feeling-Judging Type.   I took the Myers-Briggs personality test for the first time in this class, and learned that only a very small percentage-between 1-5%-of the population have this type of personality.  Before I go any further, I am aware that I do not have to buy into this belief about myself just because I took some test, and can be extroverted when I want to (but I always feel like I am faking it when I do).  However, after reading about the traits of INFJ’s, and reading about introversion, those four letters that described my personality type just seemed to fit.

I was always singled out in school and teased.  My peers always sensed that I was different in some way, and did their best to let me know that I did not belong.  However, I was not the kid who ate glue, had a freaky lazy eye, or anything else  that made me “target” in some way.  I just kept to myself.  That was it.  I identified myself most with Ally Sheedy’s character-the “Basket Case”-in the Breakfast Club.  I am certain that the numerous physical and mental traumas that I experienced as child had a great impact on social development, and believe that if I had been extroverted, I would have most likely acted out by being physically abusive towards my peers, destroying property, and the like.  But because I am introverted, I suffered from clinical depression, post traumatic stress syndrome, dissociative disorder, and anxiety attacks.

I hate being called “shy” because shyness implies that one is timid, or even weak, which I am definitely not.  Once I learned how to stand up for myself, I made it a point in my life NOT to be a doormat or a victim anymore, and have even been involved in fights (in high school), and am known at work to stand up for myself, my students, and colleagues (I am a special educator).  So, I am most definitely not SHY.  I see myself as “slow to warm”, instead of “shy”.  “Slow to warm” means that I do not completely avoid all social contact (has anyone else ever noticed how A LOT of serial killers and perverts are described as “nice guy, but kept to himself..”  What is up with that?).  Being “slow to warm” means that it may take me some time-anywhere from five minutes to five weeks depending on the social situation-to feel comfortable enough in that setting for me to open up and be a part of it.  But, I do join in if it is a group that I want to be a part of.  Once in the group, though, I find it very difficult to be ME.  My values, insights, and perceptions often times do not seem to be the shared by many others in the group, which often leads me to considering leaving the group, or just trying to fit in such a way that I do not attract negative attention to myself-if I disagree with something in the group, but staying true to my core value system.  It is a very tricky task to accomplish, indeed!  This is why I do not join many groups these days.

There are groups that I have felt almost 100% accepted in, though, and those that I feel that I can function it without compromising my beliefs, and values.  Just about any 12 Step group, such as Adult Children of Alcoholics, that I have been involved in have always made me feel welcome, and accepted.  The culture of most 12 Step groups encourages healing, acceptance, and unconditional love, no matter what personality type you are.  I have felt welcomed, and accepted at a Tao temple in California that I was a member of when I lived in California.  Currently, I belong to a Masonic Lodge and feel that I am accepted there for the most part, though, I have not quite felt comfortable to be completely ME in this group yet…

I do have several people in my life who I consider friends, and have been blessed by their understanding of my perceived eccentricities, and accept me as I am.  One of these friends I married, and I can be myself completely with her, even though I still need to explain my behavior sometimes to her.  She is an introvert, as well, but enjoys being with groups of friends, more than I do.  Sometimes, I go with her to social events because I do not want her to go alone, and to show her that I am willing to do things that make me uncomfortable because I want her to be happy, even though it may mean me stepping out of my comfort zone.

It is still a daily struggle to fit in with people at work, my Lodge, and just around town.  There is a constant pressure in my chest that appears whenever I go out into public.  I struggle with being me-who avoids most social contact with acquaintances and strangers-thereby being viewed by others as “distant”, “arrogant”, “aloof”,  or even “shy”, and being just extroverted enough to appear that I “fit in”, and/or am interested in what the group is interested in, but feeling like I am not being true to myself.  I have yet to find a happy median to this continuing dilemma.  I do want to be a part of society, work towards improving it, and meet people with like interests, and values, it is just extremely difficult to do so and I feel alone most of the time..

Source :

by. Knowhereman (http://www.experienceproject.com/stories/Am-An-Introvert/1015951)

3D_animated_vector_globe

By : Radtyo.

Malam ini saya bener-bener mager. Mager disini berarti males gerak, sebuah singkatan yang akhir akhir ini lagi ngetren di kalangan orang-orang sekeliling saya. Sebenernya lama saya nggak nulis santai kayak gini. Tanpa merhatiin struktur kalimat, besar kecilnya huruf, sama hal-hal lainnya. Jadi ceritanya malam ini saya mau nulis…santai.

Lumayan banyak kegiatan hari ini, mulai dari PLO sampe diklat DKA. Terus akhir-akhir ini rasanya hari-hari berlalu dengan cepat, gak kerasa udah weekend lagi. Gak kerasa sekarang udah malem minggu lagi, sabtu malem kalo kata yang jomblo. Di luar hari-hari yang terasa cepat, ada banyak cerita yang sebenernya pengen saya tulis disini. Tapi entah, selalu nggak sempat atau badmood setiap kali udah duduk manis di depan laptop.

Berhubung lagi niat, saya sekarang kepengen nulis. Cerita pertama adalah teman saya, wanita, sebut saja namanya Nona. Si Nona ini teman SMA saya, lulus bareng, masuk kuliah juga bareng, kebetulan juga kuliah di kampus yang sama seperti saya. Dulu, waktu awal-awal kami masuk si Nona dekat banget dengan kami, kumpulan perantau asal sebuah kota di Jawa Tengah. Kemana-mana kami selalu bareng Nona, makan bareng, jalan bareng, belajar bareng, kumpul juga bareng. Entah sejak kapan, Nona ini mulai berubah. Saya jadi jarang ketemu dia di kampus, sabtu-minggu ketika para perantau berkumpul, si Nona ini menjadi jarang kelihatan. Bukan jarang sih, tidak pernah malah. Sampe akhirnya, para perantau ini (termasuk saya) punya sebuah tempat berkumpul yang fix, semacam tempat nongkrong di akhir minggu. Si Nona ini kemudian menghilang dari kalangan perantau, tidak pernah namanya disebut-sebut lagi ketika kami sedang berkumpul. Sedih ya ? Padahal kami satu kampus, seharusnya bisa paling tidak bertemu sesekali. Atau mungkin bisa juga si Nona meluangkan waktunya satu sampai dua jam dalam seminggu untuk berkumpul dengan kami, para perantau. Tapi kembali ke diri masing-masing, namanya juga manusia, pasti punya kesibukan tersendiri kan ya ? Mungkin saja sayanya yang terlalu nganggur jadi masih bisa kumpul sama teman-teman (lama) saya yang (masih) senasib dan seperjuangan.

Itu tadi cerita pertama, yang kedua, tentang PLO hari ini. Saya datang telat, sekitar jam dua belas karena harus mengikuti diklat DKA dahulu. Kebetulan tadi ketika saya datang sedang ishoma, jadinya agak santai. Yang menarik, materi hari itu adalah tentang ‘menemukan jati diri’. Si motivator sempat menjabarkan teknik untuk ‘menemukan jati diri’ itu, kalau tidak salah namanya teknik SWOT. Intinya sih, lebih ke arah merenungkan diri sendiri, menemukan apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang dicemaskan. Lalu ketika saya mendengar penjelasan, saya jadi keingetan tentang personality type. Lupa namanya, pokoknya ada 16 personality yang dibentuk dari empat huruf. Salah satunya INFJ, contohnya saya dan seorang teman saya. Huruf I di situ singkatan dari Introvert, saya Introvert tetapi tiga huruf lainnya merubah persepsi Introvert di diri saya. Dari yang dijelaskan oleh motivator, orang Introvert cenderung pendiam, suka menyendiri, dan tidak banyak yang tahu. Adanya huruf N, F, J menjadikan orang-orang Introvert ini bukan tipe orang Introvert seperti penjelasan motivator. Orang-orang INFJ cenderung terlihat seperti orang-orang ekstrovert, agak banyak bicara dan terkesan sosialis. Bagi saya ini kadang-kadang menjadi sesuatu yang fatal, terkadang orang melihat saya begitu meskipun sebenarnya saya tidak begitu. Ada beberapa saat ketika seorang INFJ berlaku seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa, tetapi sebenarnya ada sesuatu yang membebani orang itu. Bagi saya INFJ seperti badut, ada sebuah make up tebal yang membuat dia terlihat seperti selalu tersenyum dan gembira. Entah ini sebuah kelemahan atau kelebihan, yang jelas semakin hal ini saya pikirkan, semakin ragu saya dengan diri saya sendiri. Ujung-ujungnya kalau saya ragu, orang-orang di sekitar saya kena imbasnya, saya jadi menarik diri dan kehilangan kepercayaan ke orang-orang di sekitar saya.

Ya itu tadi sih sedikit cerita yang ada di pikiran saya akhir-akhir ini. Semoga saja, besok si Nona ikut berkumpul dengan para perantau lagi. Semoga juga cerita kedua memberi gambaran tentang sesuatu (entah sesuatu itu apa, abstrak), saya bisa bilang orang-orang INFJ sebenarnya cuma butuh satu hal kok. Seorang teman, yang entah bagaimana caranya bisa mengerti orang itu gimana, bisa tau kapan harus mensupport, dan bisa maklum ketika ditinggalkan. Teman yang nggak sembarang men-judge, yang nggak sembarang ‘menampar’ tetapi masih bisa mengembalikan orang itu ke realita ketika dia melayang bebas di dalam imajinasinya.

Jangan-jangan saya kesepian ya ?
Tetapi dengan semua syarat itu sampai sekarang sih, saya baru ketemu satu orang.

By Radtyo  (http://radtyo.blogspot.com/2012/03/refleksi.html)

3D_animated_vector_globe

assalamu’alaikum! sashiburiiii, rasanya udah lama saya beneran nulis di sini. nyampaaaaah terus. biasa, sindrom galau akut agak melanda saya kemarin daaan postingan ini ajibnya akan menjelaskan segala perilaku saya yang random, ohoho.

udah pernah ada ya di postingan sebelumnya, saya sukaaa banget mempelajari kepribadian dan sebagai remaja-setahun-lagi-20tahun-jadi-apa-masih-cocok-dianggep-remaja yang severely self-conscious, hahay, saya terus mencari definisi diri saya. buat beberapa orang, aksi saya ini terkesan seperti ngebatesin definisi pribadi banget, sangat konsekuensial untuk mempersempit ruang self improvement nantinya. yeah, i am not you, hey people. diri ababil ini dianugrahi rasa penasaran terus menerus oleh Allah untuk mendefinisikan dirinya demi mencari metode self improvement yang tetap, plus jugademi menemukan potensi lain yang udah Allah titipin ke diri ini. so accept me all the same, yeah?

proses pencarian ini kemudian mendaratkan saya pada satu kesimpulan yang memberi banyak penerangan pada saya. berdasarkan MBTI (yang merupakan klasifikasi kepribadian paling oke sampai saat ini menurut PerC), saya ini intuitif, perasa, penilai, dan surprisingly… INTROVERT! AHA!

dengan memanjatkan syukur ke hadirat Allah, akhirnya saya nemu lagi satu titik perdamaian dengan diri saya sendiri. buat banyak orang, saya terlihat outgoing, sanguinis (yang ini bener sih), stand out in the crowd, dan ladida ladidum lalala extrovert lainnya. the bittersweet truth is… saya ngga pernah senyaman itu ketika berada di kerumunan. yeah, i get energized by people, but only from my dear closest people. ini menjelaskan pertanyaan saya ke diri saya sendiri, kenapa sih saya kayak punya koefisien gesek statis yang gedeee banget setiap pengen muncul di crowd untuk jangka waktu yang lama? the answer is really simple: i am exhausted by crowd. di awal, emang saya bisa keliatan super heboh kayak presenter-presenter DahSyat,  lalu lama-lama, pet! mati lampu. entah, crowd menghisap energi saya seperti black hole.

ini juga yang menyebabkan kadang-kadang saya ngerasa kayak alien, suka beda sendiri. temen saya pernah bilang kalo saya irasional (dan anehnya saya seneng dianggep gini). mungkin harusnya ga cuma ada buku why men are from mars and women are from venus, tapi juga why alya is from the planet where Darth Vader is born. oke, itu ide yang random abis.

moving on! sebagai INFJ! dominant function saya adalah Introverted Intuition which is the most awesome thing that ever happens in my life and sadly, i only found this function awesome today. ini menjelaskan pengalaman-pengalaman clairvoyant saya dulu dan menjelaskan banget kenapa saya suka dapet kesan instan tentang orang asing, feeling ga enak kalo temen ada apa apa, dan kenapa akhirnya saya kesel sama diri sendiri karena kesannya ko saya gampang banget suuzhan, hahaha. alhamdulillah, Introverted Intuition yang emang bikin saya jadi bisa memproses secara ga sadar ini membawa point of peace lain buat saya 🙂

haaaa, rasanya pengen nulis lebih banyak lagi tapi berhubung, yah, LJ bukan blog provider yang bisa sangat diandalkan (baca: kalo internet lelet biasanya draft yamg udah saya bikin panjang-panjang tau-tau ilang aja, HUH), cukup sekian sepertinya. mungkin saya bakal lanjut nulis lagi tentang ini, mungkin ngga, tapi alhamdulillah, saya cukupkan tulisan saya di sini dulu.

banyak situs internet yang bilang kalo INFJ itu paling langka di US.
di Indonesia? hoooo, entahlah ya.

hey, whoever you are, if you’re an INFJ, don’t feel like you’re alienated. we’re just as ordinary and as unique as anyone else. stay genuine. embrace out weaknesses like we greet our old friends. be brave. step out. perhaps, God created us as the fewest mankind because we’re like high notes, exotic seasoning or hormones (?). the world doesn’t need us in great numbers, but we can give a great deal of change -positive change, i wish- for the world for being who we are 🙂

by : alyahant (http://alyahanant.livejournal.com/48114.html)

3D_animated_vector_globe

Prolog

Saya menemukan INFJ nyaris tanpa kesengajaan (baca: apa ada yg namanya kebetulan dalam hidup?), saat itu saya sedang mengirim email, namun waktu menunggu upload cukup lama, tiba-tiba terpikir saya selalu kebingungan setiap mengisi psikotes utk mendapatkan pekerjaan. Ah iseng aku ketik di google, personality test, I have no idea di hal. Pertama yg mana yg harus aku pilih, saya klik situs humanmetric.com, aku selesaikan tes (saya ga tau sama sekali bahwa itu adalah tes MBTI) lalu submit lihat hasil, didapatlah INFJ,

1

apaan ini, aku ketik di google INFJ, dgn profile yang cukup mencengangkan, INFJ didaulat tipe kepribadian paling langka, otomatis saya langsung merasa syok sendiri; pantas saja pikir saya, saya selama ini memang merasa berbeda dengan orang lain, tapi saya tidak mengerti kenapa saya berbeda..

similarmind2Saya cari lagi profile yang lain, dan cukup freak juga ketika melihat profil yang nyaris sedetail itu meng x-ray diri saya yang sesungguhnya.., ada sedikit perasaan lega dan tenang.. Ya ini menjelaskan semua perilaku saya selama ini, dan saya normal: yeea…, setelah itu tibalah masa penolakan diri, masa aku seaneh itu ya, sebeda itu dengan orang lain dan selangka itu?.. Aku tes lagi di situs yg sama, dan mendapat hasil yang sama, trus aku tes lagi di situs yangg lain, similarminds.com, sama jg, masih penasaran saya tes lagi di situs lain dan sama juga, sudahlah berarti memang aku INFJ..

cognitivequizcom2

Tibalah fase kedua, fase penerimaan diri, didalam fase ini saya mengumpulkan tenaga untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang apa itu INFJ, kata yg baru aku kenal, tapi sangat menarik dan membuat penasaran pada waktu itu, di fase ini saya mulai memahami diri saya yang tergambar jelas sesuai deskripsi INFJ, saya memang beda, misterius, rumit, sulit dimengerti dan abstrak, saya mulai menerima itu.., namun secara pribadi saya kurang suka disebut aneh apalagi tidak normal :D, mengapa? Karena bagi saya julukan tersebut tidak adil, tendensi justifikasi tanpa didasari pengertian, bagi saya normal itu hanyalah sebuah persepsi kaum terbanyak mendefinisikannya dan mereka menganggap semua org seperti itu (“normalnya”), lalu mencap orang yang berbeda dengan kaum terbanyak sesuka mereka (pdhal umumnya mereka tidak mengerti), jika kami INFJ lebih banyak maka definisi normal akan berubah seperti bagaimana kaum INFJ mendefinisikannya. – namun yang terpenting dan  paling indah adalah saling menghargai dalam perbedaan.  Bagi saya akan lebih bijak untuk  memahami sesuatu terlebih dahulu sebelum menilai.

PsikologizoneFase selanjutnya adalah fase dimana INFJ menyelamatkan saya..(Thx to Carl Jung) karena sebelum mengetahui mengenai INFJ.. Hampir seumur hidupku habis dgn bertanya  mengapa aku berbeda dgn org lain, semasa sma aku pernah kebingungan apakah aku alien?  Apakah aku tidak normal? Apakah benar aku aneh? Sulit bagi orang lain untuk memahami saya, apa yg salah? Ternyata memang tidak ada yg salah, aku hanya langka (umumnya dipercaya 1% populasi dunia).. Jadi mereka tidak terbiasa dgn jenis kepribadian ini, mereka bukan hanya tidak terbiasa tapi kebanyakan tidak mengetahui apa itu INFJ.

Epilog.
Saya ingin bisa lebih dipahami karena saya memang ingin diperlakukan sebagaimana umumnya manusia.  Saya memang sedikit berbeda, dan saya bangga akan diri saya!.

original_2

By : ARM (mulia.rahman.andri@gmail.com)

3D_animated_vector_globe